Full width home advertisement

Kuliah

Buku Harian

Post Page Advertisement [Top]

Tiba-tiba saja aku merindukan rumah kedua ini, yang rasanya sudah lama ditinggalkan dan tak terurus. Entah kenapa hari ini aku ingin menuliskan sesuatu kembali sini.


Akhir-akhir ini aku sangat relate sekali dengan lagu-lagunya Hindia, dan lagu pertama yang aku dengar dari Hindia ialah offical soundtrack dari adaptasi novel NKCTI yang jadi film dengan judul sama, yups "Secukupnya", dimana filmnya sukses bikin aku mewek wkwk. Kembali ke lagunya, lagu ini tuh sangat-sangat booming pas masih jaman jamannya covid-19, dan sukses bikin pendengar menanyakan sebuah pertanyaan yang sangat besar dalam benak mereka dan itu


Memang begini ya dewasa? tepatnya dipaksa dewasa.


Saat ini pada tahun 2025, umur aku udah genap 26 tahun, yang artinya juga udah masuk 1 tahun lebih fase quarter-life crisis. Fase dimana diri mulai menanyakan mau kemana setelah ini, liat sesuatu mikir ulang buat dibeli (kecuali buku sih kalo aku yaa whaha), liat orang jual rumah jadi kepengen beli, mikirin investasi sana sini, mulai ngantur uang gajih buat ini itu sama keluarga juga, dan yang gak semua laki-laki bilang ke banyak orang ialah mulai mencari teman hidup dia dari detik ini hingga menua nanti, uhuk.


Umur segini juga lingkaran pertemanan udah lebih mengkerucut, dikit banget, bisa dihitung jari malahan. Mentok mentok temen yang sering ketemu ialah teman kantor, pembicaraannya pun terbatas pada topik apa aja tugas kantor yang belum selesai, dan kerjaan selanjutnya yang perlu dikonsultasikan ke atasan, serta mulai dicicil untuk dikerjakan. Yups seakan akan dunia itu berfokus kebanyakan pada kerjaan selama pagi-sore hari, kecuali hari libur sih, aku udah gak mau make hari libur buat kerja, pengecualian sih jika udah mendesak banget. 


Temen-temen selain teman kerja udah pada sibuk sama kerjaan ataupun hidup mereka sendiri, ya kebanyakan sih karena udah berkeluarga, otomatis prioritas mereka ya anak dan istri mereka. Hampir sulit rasanya bertemu teman lama, jika pun bisa kadang kondisinya adalah momen gak sengaja, misal ketemu pas di mini market, dia gendong anaknya sedangkan aku gendong choki-choki 2 kotak, nasib memang. But don't ask me anything for married wkwk, iya aku punya rencana kok, cuman kalo sekarang ditanya mungkin akan aku jawab begini:

Masih banyak nasi goreng yang belum aku coba di kota aku sekarang tinggal, dan kota tetangga wkwk.


Hidup diumur 25 ke atas itu bikin seolah olah kebanyakan monontonnya kalo enggak disempetin. Dulu aja pas jaman masih kuliah suka main game atau suka baca buku, cuman sedihnya gak punya cukup uang untuk beli game ataupun buku bacaan tersebut. Beda dengan sekarang, semuanya kebalik, kalo sekarang mungkin kita tuh bisa beli semua yang kita pengen waktu dulu, tapi sekarang we don't have much time (sial, gak ada waktu), begitulah realitanya. Ada waktu ya digunain buat tidur siang, kalo lembur ya malamnya tidur cepet aja. Pengen sesuatu ya disempetin dikit-dikit biar otak sama tubuh gak burn out banget. Termasuk jalan sama temen, terutama lagi pasangan, semua kuncinya sekarang ialah disempetin.


Aku yakin sih baik laki-laki maupun perempuan yang udah difase ini atau umur segini, pasti entah sengaja atau gak sengaja pernah nangis habis pulang kerja. Yups seberat itu dunia dewasa teman, nangis jadi obat sementara dan rasa tenang sebelum esok hari bertemu kacaunya dunia lagi. Bicara kacaunya dunia, hal ini pun jadi sejalan saat kita menonton animasi kartun Spongebob lagi, seolah kita  relate dengan Squidward si gurita tentakel yang menyebalkan dan tidak asik. Ternyata Squidward adalah gambaran hidup kita sekarang yang ke pengennya cuman kerja, pulang, istirahat dan menikmati hidup dengan hobi kita yang gak bisa kita kerjakan jika dihari kerja. Nah si Patrick dan Spongebob adalah orang-orang yang menurut kita menyebalkan namun kita tak punya kuasa atau energi untuk melawan mereka, pada akhirnya kita membiarkan rasa kesal kita dialihkan dengan mengalah dan menjauh perlahan, benarkan?


Jadi sekarang apa itu dipaksa dewasa?


Kalo menurut aku sih, keadaan sekarang yang entah kenapa sangat sesuai dengan keadaan yang dulu, namun bedanya kita sekarang memaklumi, menyempatkan dan berdamai atas kuasa yang tidak bisa dikendalikan. Cara kita memaknai hidup jadi berbeda, prioritas kita untuk segala sesuatu juga udah berubah, mulai nurunin ego kita dan coba bermeditasi dengan diri. Walau inti semuanya sih ya rasa Syukur yang mendalam sangat.


Memang benar kita dipaksa dewasa, namun bukankah semua orang di dunia juga mengalami hal yang sama, karena kita adalah makhluk yang akan selalu pertama dalam segala hal. Jadi dipaksa dewasa mungkin jadi sebuah kalimat yang mewakili kalimat lainnya, iya membiasakan dewasa :)



No comments:

Post a Comment

Bottom Ad [Post Page]